Rabu, 03 September 2008

PENGENCERAN SUSU FORMULA BAYI HARUS TEPAT

Jangan sepelekan masalah pengenceran susu formula. Ini bukan main-main karena data di Afrika bisa dijadikan gambaran; 30 % bayi meninggal sebelum usia satu tahun karena pemberian susu dengan air tidak bersih dan cara pengenceran yang salah. Pengenceran yang tidak tepat tidak hanya membuat si kecil sakit atau kurang gizi, tapi juga menyebabkan komplikasi lain. Itulah mengapa, komposisi air dan susu dengan takaran yang tepat amat dibutuhkan. Tidak lebih dan tidak kurang.

MENGAPA MESTI TEPAT?
Takaran susu formula umumnya sudah dibuat sedemikian rupa dengan memerhatikan osmolaritas (tingkat kekentalan) yang disesuaikan dengan kemampuan fungsi pencernaan bayi. Juga dengan memerhatikan komposisi masing-masing produk susu yang dibuat. Jika standar pengenceran itu dilanggar, maka sistem pencernaan bayi tidak bisa menerima, sehingga dapat menimbulkan berbagai gangguan pencernaan. Selain itu, fungsi pencernaan bayi juga umumnya belum optimal dan mudah terganggu jika asupan yang diterima "tidak sesuai" dengan kemampuannya.

Pelarutan dengan takaran yang tepat sebaiknya dilakukan hingga anak berusia satu tahun. Di atas itu, takaran tepat umumnya sudah tidak menjadi prioritas lagi. Jika si kecil mengonsumsi susu terlalu kental atau tidak dicampur air sekalipun biasanya tidak menimbulkan gangguan kesehatan yang berarti. Karena fungsi pencernaan anak sudah matang.

GANGGUAN DAN PENYAKIT
Jika terlalu kental, maka asupan susu formula bisa menyebabkan berbagai gangguan pencernaan. Bagaimana jika terlalu encer? Jelas, asupan gizi yang diserap bayi menjadi berkurang. Ini karena anak lebih banyak minum air daripada susu. Jika dibarengi dengan sulit makan makanan padat (bayi 6 bulan ke atas), ia pun bisa terancam kurang gizi.

Gangguan pencernaan akibat larutan susu yang terlalu kental adalah:
1. SEMBELIT
Meski bisa menerima, sistem pencernaan bayi tidak bisa "mengolah" susu formula yang terlalu kental dengan optimal. Akibatnya, tinja bayi menjadi keras sehingga susah buang air besar. Ada kasus seorang ibu yang sengaja lebih mengentalkan susu formulanya, dengan alasan bayinya sulit minum susu, atau kalaupun minum porsinya sangat sedikit. Air 30 cc yang harusnya dicampur dengan satu takar sendok susu, ditingkatkan menja- di dua takar. Akibatnya, bayi kesakitan saat BAB karena tinjanya sangat keras.

Ciri-ciri sembelit di antaranya perut sakit saat BAB. Pada bayi ditandai dengan muka kemerahan, menangis, dan mengedan. Frekuensi BAB lebih jarang atau kurang dari tiga kali seminggu, tinjanya keras serta massa tinja teraba pada perut. Jika tidak diatasi, sembelit bisa menjadi akut bahkan kronis. Dikatakan akut jika gangguan berlangsung selama 1-4 minggu. Sedangkan dikatakan kronis jika berlangsung lebih dari sebulan. Semakin kronis semakin lama pengobatannya.

Dampak jangka panjang, kuman-kuman di usus besar menjadi menumpuk berlebihan. Selanjutnya akan terjadi infeksi di usus. Jika dibiarkan, bayi pun bisa mengalami sepsis dan terancam nyawanya. Dengan demikian, tidak buru-buru memberi obat saat bayi sembelit merupakan tindakan yang disarankan. Lebih baik konsultasikan pada ahli untuk mencari penyebab. Siapa tahu, susu terlalu kental menjadi biang keladinya.

2. MENCRET
Susu yang terlalu kental membuat usus bayi sulit mencerna, sehingga sebelum dicerna, susu akan dikeluarkan kembali lewat anus. Tak heran jika anak lantas sering mengalami mencret. Meski tidak membahayakan, mencret bisa menyebabkan dehidrasi atau kekurangan cairan. Mencret juga bisa menimbulkan komplikasi berupa mun-culnya penyakit-penyakit lain, seperti infeksi saluran pernapasan atas. Penanganan pertama yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan banyak cairan kepada bayi.

3. SERING MUNTAH
Penolakan usus terhadap larutan susu yang terlalu kental bisa juga dalam bentuk muntah. Ini karena fungsi pencernaan dengan peristaltik (gelombang kontraksi pada dinding lambung dan usus) pada bayi belum terbentuk sempurna, sehingga jika ada asupan makanan yang terlalu kental, makanan dikeluarkan kembali (muntah). Bayi yang sering muntah bisa terancam kekurangan gizi.

4. KOLIK
Meski sangat jarang, susu yang terlalu kental bisa menyebabkan kolik, alias kram atau kejang usus. Ciri-cirinya, bayi menangis keras tanpa sebab. Kadang juga disertai dengan buang angin. Tapi, setelah menangis bayi biasanya bisa beraktivitas dengan normal. Kolik memang tidak berbahaya, meski merepotkan orangtua, karena si kecil tetap menangis meski diatasi dengan berbagai cara.

Dalam jangka panjang, anak yang diberi susu terlalu kental akan terganggu asupan nutrisinya, karena zat gizi yang terkandung dalam susu tidak bisa diserap tubuh secara maksimal, bahkan terbuang sia-sia lewat muntahan dan diare. Bahkan, jika gangguan akibat pengenceran yang salah ini tidak diatasi, dan diperparah oleh buruknya bahan baku air, bukan tidak mungkin angka kematian yang terjadi di Afrika bisa terjadi di tanah air.

SUSU KENTAL SEMBUHKAN GUMOH?
Memang, salah satu terapi mengatasi gumoh berlebih adalah dengan memberinya susu khusus yang telah dikentalkan (thickening). Dengan pengentalan tersebut, diharapkan aliran balik/muntah tidak terjadi karena gaya gravitasi. Bukankah susu kental lebih berat sehingga lebih sulit dimuntahkan? Betul, tetapi pengentalan ini harus dilakukan dengan perhitungan-perhitungan tertentu dan tidak boleh dilakukan sembarangan. Jadi, jangan coba-coba mengentalkan susu formula demi terapi gumoh di rumah. Alih-alih sembuh, pengentalan sembarangan membuat gumoh bayi semakin menjadi-jadi.

Selain itu, ada juga upaya mengatasi mencret dengan lebih mengencerkan susu formula. Logikanya, susu encer lebih mudah diserap usus bayi yang sedang mencret ketimbang susu dengan takaran standar apalagi kental. Namun, tindakan ini memerlukan bukti lebih lanjut lewat beberapa penelitian ilmiah. Itulah, mengapa, banyak dokter anak yang tidak menganjurkan orangtua untuk mengencerkan susunya saat anak mencret. Demi melihat peliknya risiko penggunaan susu formula yang tidak tepat bagi bayi, maka ASI makin diunggulkan sebagai yang terbaik tentunya.

TIP PENGENCERAN SUSU FORMULA
1. Lihatlah aturan pakai yang tertera pada kotak/kaleng susu. Masing-masing produk susu formula memiliki aturan pakai sendiri. Tapi sebagian besar susu formula memiliki aturan, satu sendok takar susu formula harus dicampur 30 cc air. Akan halnya susu formula yang tergolong tinggi kalori, maka untuk satu sendok takarnya harus dicampur 60 cc air. Susu formula tinggi kalori umumnya dibuat dengan tujuan mengejar ketertinggalan berat badan.

2. Standar pengenceran di atas berlaku untuk semua usia bayi, mulai 0-12 bulan. Kecuali untuk bayi-bayi tertentu, seperti bayi dengan berat lahir di bawah 2 kg atau prematur, mereka akan diberi susu khusus yang kekentalannya diatur sedemikian rupa oleh dokter.

3. Setiap produk susu biasanya menyediakan sendok takarannya sendiri. Ukuran sendok tersebut sudah dirancang lewat berbagai tes dan uji kelayakan. Jangan pernah mengganti sendok takar dari satu produk dengan sendok takar dari produk lain. Produk susu untuk anak berusia di atas 1 tahun mungkin tidak menyertakan sendok takar di dalam kemasannya. Sebagai patokan, digunakan sendok makan orang dewasa yang biasa digunakan untuk makan sehari-hari, atau sendok teh, yaitu sendok kecil untuk mengaduk teh. Patuhi aturan tersebut. Sedangkan jumlah air bisa diukur dengan skala yang tertera pada botol susu bayi.

4. Susu bayi banyak mengandung lemak. Jika sulit melarutkannya, gunakan air panas terlebih dahulu kurang lebih seperempat bagian dari volume air yang diminta. Lalu aduk sampai larut. Setelah itu, orangtua bisa mencampurnya dengan air hangat sebanyak volume yang tersisa. Diamkan beberapa saat sampai larutan susu suam-suam kuku. Susu yang dingin atau sama dengan suhu ruang bisa menurunkan selera bayi untuk minum.

5. Pastikan bahan baku air benar-benar bersih, juga peralatan botolnya steril, agar bayi tidak mudah terinfeksi dan sakit.

ASI MAKANAN TERBAIK BAYI
Bagaimanapun, kata Tinuk, ASI merupakan makanan terbaik bayi. Takaran dan suhunya sudah pasti tepat. Tidak perlu menyiapkan air panas dan sterilisasi botol. Risiko gangguan pencernaan akibat ASI pun nihil karena tidak ada ASI yang tidak cocok untuk bayi. ASI juga merupakan makanan terbaik bagi bayi dengan berat badan lahir rendah. Jadi, kalau bisa memberi ASI, mengapa harus memilih yang lain?

Oleh: Dr. Tinuk Agung Meilany, Sp.A,
dari Bagian Nutrisi Anak RSAB Harapan Kita, Jakarta

http://www.mail-archive.com

2 komentar:

Kreasi Mukena Anak mengatakan...

terima kasih untuk info susu formulanya, sangat membantu saya karena asi istri saya kurang.

budiharso mengatakan...

mantab artikelnya. salam kenal dari http://budiharso.wordpress.com